~ Sharing Is Caring ~

Posts Tagged ‘Motivasi

“Kalau mereka boleh berjaya, saya pun boleh berjaya”

Inilah kata-kata yang sering dilafazkan oleh orang yang cemerlang dalam hidupnya. Apabila menghadapi masalah atau jalan buntu, mereka tidak mudah berputus asa kerana berkeyakinan bahawa kalau orang lain boleh buat sesuatu atau berjaya mengapa mereka tidak boleh.

Rujukan mereka ialah orang yang cemerlang yang telah membuktikan kehebatan diri. Tetapi bagi orang yang lemah pula ada tiga kemungkinan. Pertama mereka tidak ada rujukan mana- mana orang yang cemerlang. Keduanya kalau ada pun rujukan orang yang cemerlang, mereka merasakan mereka tidak mampu atau layak untuk berjaya seperti itu. Atau ketiganya rujukan mereka ialah rakan orang lemah sendiri.

Bagi merasionalkan kelemahan atau kemalasan mereka, orang ini akan berkata “kalau si dia tu sudah berusaha pun masih gagal, buat apa kita berusaha bersungguh-sungguh” .

Membangun Kepercayaan diri

Bagi sebahagian kita yang punya masalah rendahnya kepercayaan- diri atau merasa telah kehilangan kepercayaan diri, mungkin Anda boleh menjadikan langkah- langkah berikut ini sebagai proses latihan:

1. Menciptakan definisi diri positif.

Steve Chandler mengatakan, “Cara terbaik untuk mengubah sistem keyakinanmu adalah mengubah definisi dirimu.”

Bagaimana menciptakan definisi diri positif. Di antara cara yang boleh kita lakukan adalah:

o Membuat kesimpulan yang positif tentang diri sendiri / membuat pendapat yang positif tentang diri sendiri. Positif di sini ertinya yang boleh mendorong atau yang boleh membangun, bukan yang merosakkan atau yang menghancurkan.

o Belajar melihat bahagian-bahagian positif / kelebihan / kekuatan yang kita miliki

o Membuka dialog dengan diri sendiri tentang hal-hal positif yang boleh kita lakukan, dari mulai yang paling kecil dan dari mulai yang boleh kita lakukan hari ini.

Selain itu, yang perlu dilakukan adalah menghentikan persepsi diri negatif yang muncul, seperti misalnya saya tidak punya kelebihan apa-apa, hidup saya tidak berharga, saya hanya beban masyarakat, dan seterusnya. Setelah kita menghentikan, tugas kita adalah menggantinya dengan yang positif, konstruktif dan motivatif. Ini hanya syarat awal dan tidak cukup untuk membangun kepercayaan diri.

2. Memperjuangkan keinginan yang positif

Selanjutnya adalah merumuskan program / agenda perbaikan diri. Ini boleh berbentuk misalnya memiliki target baru yang hendak kita wujudkan atau merumuskan langkah-langkah positif yang hendak kita lakukan. Entah itu besar atau kecil, yang pentingnya harus ada perubahan atau peningkatan ke arah yang lebih positif. Semakin banyak hal-hal positif (target, tujuan atau keinginan) yang sanggup kita wujudkan, semakin kuatlah keinginan kita. Kita perlu ingat bahawa pada akhirnya kita hanya akan menjadi lebih baik dengan cara melakukan sesuatu yang baik buat kita. Titik. Tidak ada yang boleh mengganti prinsip ini.

3. Mengatasi masalah secara positif

Semangat juga boleh diperkuatkan dengan cara memberikan bukti kepada diri sendiri bahwa kita ternyata berhasil mengatasi masalah yang menimpa kita. Semakin banyak masalah yang sanggup kita selesaikan, semakin kuatlah motivasi diri. Lama kelamaan kita menjadi orang yang tidak mudah menyerah kalah ketika menghadapi masalah. Kerana itu ada yang mengingatkan, begitu kita sudah terbiasa merasa pasrah atau kalah, ini nanti akan menjadi kebiasaan yang membuat kita seringkali bermasalah.

4. Memiliki dasar keputusan yang positif.

Kalau dibaca dari praktis hidup secara keseluruhan, memang tidak ada orang yang selalu yakin atas kemampuannya dalam menghadapi masalah atau dalam mewujudkan keinginan. Orang yang sekelas Mahatma Gandhi saja sempat goyah ketika tiba-tiba realiti berubah secara tak terduga-duga. Tapi, Gandhi punya cara yang boleh kita tiru:

“Ketika saya putus asa maka saya selalu ingat bahwa sepanjang sejarah, jalan yang ditempuh dengan kebenaran dan cinta selalu menang. Ada beberapa kejahatan dan pembunuhan yang sepertinya menang tetapi akhirnya kalah. Fikirkan ucapan saya ini, SELALU”. Ertinya, kepercayaan Gandhi tumbuh lagi setelah mengingat bahwa langkahnya sudah dilandasi oleh prinsip- prinsip yang benar.

5. Memiliki model / teladan yang positif

Yang penting lagi adalah menemukan orang lain yang boleh kita contohi dari segi kepercayaan dirinya. Ini memang menuntut kita untuk sering membuka mata melihat orang lain yang lebih bagus dari kita lalu menjadikannya sebagai teladan atau idola. Demikian pentingnya peranan orang lain ini, ada yang mengatakan bahwa kita boleh memperbaiki diri dari dua hal:

a) pengalaman peribadi (life experiencing) dan

b) duplicating (mencontoh dan mempelajari orang lain).

Advertisements
Tags:

Keunikan manusia yang kita temui di sekeliling kita kadang2 membuat kesukaran tersendiri baik bagi kita yang menghadapi mereka maupun sebaliknya.

Setiap hari kita membuat penilaian tentang orang yang kita jumpai baik berdasarkan penampilan fizikal, pola pembicaraan atau kesan pertama kita terhadapnya. Selain itu kita juga mempunyai penilaian tentang diri kita sendiri. Contohnya, jika kita sering diberitahu, “Engkau tidak akan mengetahui”, kita lalu membuat penafsiran bahawa kita dianggap bodoh.

Andaian yang muncul tentang diri kita sendiri boleh menyulitkan kita dalam menghadapi orang lain. Jadi orang lain tidak selamanya merupakan sumber kesukaran, satu-satunya.

Charles J. Keating dalam bukunya, Bagaimana Menghadapi Orang Lain?, menerangkan lebih jauh mengenai hal ini.

Anggapan mengenai orang lain.

Anggapan mengenai orang lain dapat menyulitkan kita sendiri. Biasanya, tingkah laku kita menunjukkan anggapan kita. Misalnya: kita cenderung memberikan reaksi terhadap cara berpakaian orang lain. Saat kita melihat seseorang dengan pakaian yang “seadanya” maka kita menganggap bahawa orang tersebut adalah orang yang “biasa-biasa saja” atau dengan kata lain bukan orang yang kaya. Maka cara kita memperlakukan mereka pun juga “seadanya”.

Tetapi apabila kita bertemu dengan seseorang yang memakai pakaian yang “mewah/ ekslusif” maka kita cenderung beranggapan bahawa orang tersebut adalah orang yang “berada” dan perlakuan kita pun terhadapnya akan jelas berbeda. Padahal menilai orang hanya dari penampilan fizikalnya saja sangat tidak bijaksana.

Anggapan kita mengenai orang lain dapat menciptakan atau merubah orang lain yang sebenarnya tidak ada. Dengan dipengaruhi oleh “keyakinan” kita sendiri dan diperkuat oleh “persepsi” mengenai orang lain, kita dapat membuat keputusan yang dapat menimbulkan masalah yang sesungguhnya tidak ada. Inilah problem dengan aanggapan mengenai orang lain. Mustahil memang untuk tidak membuat anggapan mengenai orang lain, tetapi tidak bijaksana untuk tidak menguji aanggapan2 tersebut.

Menilai diri kita sendiri.

Aanggapan kita tentang orang lain hampir selalu dipengaruhi oleh penilaian kita mengenai diri kita sendiri. Bagaimana pun anggapan mencakupi berbagai hubungan, apakah itu dilakukan dari jarak jauh atau dari jarak dekat, dan hubungan meliputi diri kita sendiri dan orang lain. Kita dapat membuat anggapan hanya tentang orang lain dari perspektif kita sendiri yang sering diwarnai oleh diri kita tentang diri kita sendiri.

Contohnya seorang akan selalu mengalami kesulitan jika rakan kerjanya melakukan pekerjaan yang menurutnya tidak sempurna (tidak seperti yang ia harapkan). Ia akan menjadi kepayahan bagi rakan kerjanya, demikian pula rakan kerjanya akan menganggap orang tersebut adalah orang bermasalah.

Strategi menghadapi orang lain.

Kita tidak dapat menghapuskan masalah kerana merupakan sebahagian dari dunia yang kita diami. Tetapi kita dapat menguranginya dengan memandang diri kita sendiri dan dengan berusaha memahami orang lain. Menangani orang bermasalah adalah tugas rangkap dua: kita harus menimbulkan kesadaran pada diri kita sendiri dan kesadaran pada orang lain.

– Periksalah aggapan kita sendiri tentang orang lain dan penilaiannya mengenai orang lain maupun mengenai kita.

– Penilaian kita kadang merupakan akibat pengalaman baik pengalaman yang benar maupun yang tidak benar, tergantung bagaimana kita menyelesaikannya.

Selalunya cara penilaian merupakan keturunan dari “keyakinan” yang ditanam di dalam diri kita oleh orang tua, saudara, guru dsb. Kunci untuk membuka suatu anggapan ialah dengan bertanya “Apakah kita telah memeriksanya dengan pertimbangan yang dewasa?” Jikalau kita tidak memeriksanya dan mempertimbangkannya secara dewasa, maka penilaian atau anggapan tersebut adalah penilaian kurang yang ada dalam diri kita. Dan asumsi tersebut lebih sukar kita kendalikan dibandingan dengan penilaian kita sendiri.

– Sebagaimana penilaian, motivasi juga harus dimunculkan untuk disadari. Jangan menganggap atau menduga sesuatu tanpa alasan, hal itu tidak ada gunanya dan kita dapat terperangkap dalam gambaran yang palsu mengenai suatu hubungan yang dapat menimbulkan kesalahpahaman yang menyukarkan.

Tags:

1. Fikirkan Boleh – Tidak Ada Yang Mustahil Sebelum Dicuba . Kenapa perlu mengalah sebelum mencuba? Kalau orang lain boleh melakukan, kenapa anda tidak? Inilah cogan kata yang perlu kita sematkan dalam minda dan hati kita. Dengan berpegang kepada cogan kata ini, tiada apa yang mustahil dalam hidup anda.

 

2. Anda bukan gagal, cuma belum berjaya. Jangan cepat melabelkan diri sendiri sebagai seorang yang `GAGAL’. Kesannya amat buruk sekali. Anda bukan gagal, tetapi belum berjaya. Mungkin anda hanya perlukan selangkah lagi untuk berjaya, jadi kenapa berhenti sekarang?

 

3. Berdikari – Jangan Terlalu Bergantung Kepada Orang Lain. Semua manusia dalam dunia ini mempunyai kelebihan yang tersendiri. Anda juga tidak terkecuali. Apa yang anda perlu lakukan ialah mengenali potensi diri dan menggilapnya. Anda boleh melakukannya sendiri tanpa bergantung kepada orang lain. Anda ada kekuatan yang tidak dimiliki oleh orang lain.

 

4. Berfikir Secara Kreatif. Dengan berkreatif, anda akan melihat `cahaya-cahaya’ baru yang boleh menerangi `kegelapan’ selama ini. Kadangkala perkara itu bukanlah sukar pun, tetapi oleh kerana anda menyempitkan pemikiran, akhirnya anda rasa terhimpit dan hilang motivasi. Oleh itu, belajarlah untuk berkreatif.

 

5. Bersikap Positif dan Optmitis. Langit tidak akan selamanya mendung, alam tidak akan selamanya malam. Pasti suatu ketika fajar akan menyinsing datang menebarkan sinarnya. Jangan berputus asa dengan rahmat Tuhan. Berbaik sangka denganNya dan berusahalah sehingga berjaya.

 

6. Berilah sedikit masa untuk berjaya. Ia seperti anda bercucuk tanam. Jika hari ini anda menyemai pokok durian, mungkin lima tujuh tahun nanti barulah anda mendapatkan hasilnya. Begitu juga dalam karier dan kerjaya. Anda perlukan masa untuk mendaki tangga kejayaan.

 

7. Rujuk matlamat hidup– Adakah anda di atas landasannya? Jika ya, jangan gundah gulana. Anda tidak akan tersesat selagi di atas landasan yang betul. Teruskan dengan jadual perancangan anda dan tingkatkan usaha lagi.

 

8. Pertingkatkan Ilmu dan Kemahiran. Mungkin bukan kerana anda tidak boleh berjaya, tetapi ada beberapa `kelengkapan’ yang masih belum dimiliki. Ia adalah ilmu dan kemahiran. Anda boleh mendapatkannya melalui pendidikan formal atau tidak formal. Tetapi ada satu sistem pendidikan yang mempunyai kesan yang sangat hebat, iaitu pengalaman. Belajarlah daripadanya.

 

9. Fahami fitrah alam; Kejayaan bukan sesuatu yang mudah. Jika anda hendak menjadi seorang yang tewas, ianya sangat mudah. Jika hendak mendapatkan wang, anda perlu bekerja. Tetapi jika hendak kehilangan wang, anda boleh mencampakkannya ke mana-mana. Mudah bukan? Itulah hukum alam; kejayaan bukan sesuatu yang mudah. Jangan rasa lemah dan longlai semata-mata kerana ianya sukar. Mungkin itu adalah petanda kejayaan yang semakin hampir.

 

10. Tuhan akan bersama dengan kebenaran. Buatlah sesuatu berasaskan kebenaran, pasti Tuhan akan bersama dengan anda. Jika Tuhan Yang Sangat Berkuasa itu turut bersama, apakah lagi yang anda inginkan?

Tags:

Ketika berusia 1 tahun , ibu suapkan makanan dan mandikan kita. Cara kita ucapkan terima kasih kepadanya hanyalah dengan menangis sepanjang malam.

Apabila berusia 2 tahun, ibu mengajar kita bermain.. kita ucapkan terima kasih dengan lari sambil ketawa terkekeh-kekeh apabila dipanggil.

Menjelang usia kita 3 tahun, ibu menyediakan makanan dengan penuh rasa kasih sayang.. kita ucapkan terima kasih dengan menumpahkan makanan ke lantai.

Ketika usia 4 tahun , ibu membelikan sekotak pensil warna, kita ucap terima kasih dengan menconteng dinding.

Berusia 5 tahun, ibu membelikan sepasang pakaian baru, kita ucapkan terima kasih dengan bergolek-golek dalam lopak kotor.

Setelah berusia 6 tahun , ibu memimpin tangan kita ke sekolah, kita ucapkan terima kasih dengan menjerit : “Taknak ! Taknak !”

Apabila berusia 7 tahun, ibu belikan sebiji bola. Cara mengucapkan terima kasih ialah kita pecahkan tingkap jiran.

Menjelang usia 8 tahun , ibu belikan ais krim , kita ucapkan terima kasih dengan mengotorkan pakaian ibu.

Ketika usia 9 tahun, ibu menghantar ke sekolah.. kita ucapkan terima kasih kepadanya dengan ponteng kelas.

Berusia 10 tahun , ibu menghabiskan masa sehari suntuk menemankan kita kemana sahaja.. kita ucapkan terima kasih dengan tidak bertegur sapa dengannya.

Apabila berusia 12 tahun, ibu menyuruh membuat kerja sekolah.. kita ucapkan terima kasih dengan menonton televisyen.

Menjelang usia 13 tahun, ibu suruh pakai pakaian yang menutup aurat.. kita ucapkan terima kasih kepadanya dengan memberitahu bahawa pakaian itu tidak sesuai zaman sekarang.

Ketika berusia 14 tahun, ibu terpaksa mengikat perut untuk membayar wang persekolahan dan asrama , kita ucapkan terima kasih kepadanya dengan tidak menulis sepucuk suratpun.

Berusia 15 tahun, ibu pulang daripada kerja dan rindukan pelukan dan ciuman.. kita ucapkan terima kasih dengan mengunci pintu bilik.

Menjelang usia 18 tahun , ibu menangis gembira apabila mendapat tahu kita diterima masuk ke IPTA, kita ucapkan terima kasih kepadanya dengan bersuka ria bersama kawan-kawan.

Ketika berusia 19 tahun , ibu bersusah payah membayar yuran pengajian, menghantar ke kampus dan mengheret beg besar ke asrama. Kita hanya ucapkan selamat jalan pada ibu di luar asrama kerana malu dengan kawan-kawan.

Berusia 20 tahun , ibu bertanya sama ada kita ada teman istimewa, kita kata. “Itu bukan urusan ibu”.

Setelah berusia 21 tahun , ibu cuba memberikan pandangan mengenai kerjaya, kita kata “saya tidak mahu jadi seperti ibu”

Ketika berusia 22-23 tahun, ibu membelikan perabot untuk rumah bujang kita. Di belakang ibu kita katakan pada kawan-kawan..”Perabot pilihan ibu aku tidak cantik, tidak berkenan aku!”

Menjelang usia 24 tahun, ibu bertemu dengan bakal menantunya dan bertanyakan mengenai perancangan masa depan, kita menjeling dan merungut. “ibu , tooooolongglah..”

Ketika berusia 25 tahun, ibu bersusah payah menangung perbelanjaan majlis perkahwinan kita. Ibu menangis dan memberitahu betapa dia sangat sayangkan kita tetapi kita ucapkan terima kasih kepadanya dengan berpindah jauh.

Pada usia 30 tahun, ibu menelefon memberikan nasihat dan petua mengenai penjagaan bayi.. kita dengan megah berkata, “Itu dulu, sekarang zaman moden..”

Ketika berusia 40 tahun, ibu menelefon mengingatkan mengenai kenduri kendara di kampung.. kita berkata “Kami sibuk, tak ada masa nak datang”

Apabila usia 50 tahun, ibu jatuh sakit dan meminta kita menjaganya, kita bercerita mengenai kesibukan dan kisah-kisah ibu bapa yang menjadi beban kepada anak-anak.

Dan kemudian suatu hari, kita mendapat berita ibu meninggal !

Khabar itu bagaikan petir !! dalam lelehan air mata, barulah segala perbuatan kita terhadap ibu menerpa satu persatu.

Jika ibu masih ada, sayangi dia. Jika telah tiada, ingatilah kasih dan sayangnya. Sayangilah ibu kerana kita semua HANYA ADA SEORANG ibu kandung.

P/S:  Sudahkah kita berterima kasih kepada ibu kita??? Sempatkah kita??

Dipetik dari sebuah mailinglist Indonesia:

Namaku Linda dan aku memiliki sebuah kisah cinta yang memberiku sebuah pelajaran tentangnya. Ini bukanlah sebuah kisah cinta hebat dan mengagumkan penuh gairah seperti dalam novel-novel roman, walau begitu menurutku ini adalah kisah yang jauh lebih mengagumkan dari itu semua.

Ini adalah kisah cinta ayahku, Mohammed Huda alhabsyi dan ibuku, Yasmine Ghauri. Mereka bertemu disebuah acara resepsi pernikahan dan kata ayahku ia jatuh cinta pada pandangan pertama ketika ibuku masuk kedalam ruangan dan saat itu ia tahu, inilah wanita yang akan menikah dengannya. Itu menjadi kenyataan & kini mereka telah menikah selama 40 tahun dan memiliki tiga orang anak, aku anak tertua, telah menikah dan memberikan mereka dua orang cucu.

Mereka bahagia dan selama bertahun-tahun telah menjadi orang tua yang sangat baik bagi kami, mereka membimbing kami, anak-anaknya dengan penuh cinta kasih & kebijaksanaan.

Aku teringat suatu hari ketika aku masih berusia belasan tahun. Saat itu beberapa ibu-ibu tetangga kami mengajak ibuku pergi kepembukaan pasar murah yang mengobral alat-alat kebutuhan rumah tangga. Mereka mengatakan saat pembukaan adalah saat terbaik untuk berbelanja barang obral karena saat itu saat termurah dengan kualitas barang- barang terbaik.

Tapi ibuku menolaknya karena ayahku sebentar lagi pulang dari kantor.

Kata ibuku,”Mama tak akan pernah meninggalkan papa sendirian“.

Hal itu yang selalu dicamkan oleh ibuku kepadaku. Apapun yang terjadi, sebagai seorang wanita aku harus patuh pada suamiku dan selalu menemaninya dalam keadaan apapun, baik miskin, kaya, sehat maupun sakit. Seorang wanita harus bisa menjadi teman hidup suaminya. Banyak orang tertawa mendengar hal itu menurut mereka, itu hanya janji pernikahan, omong kosong belaka. Tapi aku tak pernah memperdulikan mereka, aku percaya nasihat ibuku.

Sampai suatu hari, bertahun-tahun kemudian, kami mengalami duka, setelah ulang tahun ibuku yang ke-59, ibuku terjatuh di kamar mandi dan menjadi lumpuh. Dokter mengatakan kalau saraf tulang belakang ibuku tidak berfungsi lagi, dan dia harus menghabiskan sisa hidupnya di tempat tidur.

Ayahku, seorang pria yang masih sehat diusianya yang lebih tua, tapi ia tetap merawat ibuku, menyuapinya, bercerita banyak hal padanya, mengatakan padanya kalau ia mencintainya. Ayahku tak pernah meninggalkannya, selama bertahun-tahun, hampir setiap hari ayahku selalu menemaninya, ia masih suka bercanda-canda dengan ibuku.

Ayahku pernah mencatkan kuku tangan ibuku, & ketika ibuku bertanya ,”untuk apa kau lakukan itu? Aku sudah sangat tua dan jelek sekali”.

Ayahku menjawab, “aku ingin kau tetap merasa cantik”.

Begitulah pekerjaan ayahku sehari-hari, ia merawat ibuku dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, para kenalan yang mengenalnya sangat hormat dengannya. Mereka sangat kagum dengan kasih sayang ayahku pada ibuku yang tak pernah pudar.

Suatu hari ibu berkata padaku sambil tersenyum,”… kau tahu, Linda. Ayahmu tak akan pernah meninggalkan aku… kau tahu kenapa?”

Aku menggeleng dan ibuku melanjutkan, “karena aku tak pernah meninggalkannya…

Itulah kisah cinta ayahku, Mohammed Huda Alhabsyi & ibuku, Yasmine Ghauri, mereka memberikan kami anak-anaknya pelajaran tentang tanggung jawab, kesetiaan, rasa hormat, saling menghargai, kebersamaan, & cinta kasih. Bukan dengan kata-kata, tapi mereka memberikan contoh dari kehidupannya.

Oleh Dr Tuah Iskandar A-Haj

“Rasa kasih, sayang dan cinta bukan satu perjudian untuk menentukan menang atau kalah tapi ia adalah ikatan hati yang menentukan nilai satu perhubungan, kesetiaan dan ketulusan

Bukan sedikit orang yang menganggap remeh persoalan cinta. Cinta selalu dikaitkan dengan mereka yang tiada pendirian teguh dalam hidup. Itu silap, cinta penting lantaran ia anugerah ILAHI untuk setiap hamba-NYA. Sesiapa yang mendapat cinta akan merasai nikmatnya hidup. Sesiapa yang gagal mendapat cinta akan merasakan hidupnya kosong.

Cinta itu penting, maka itu bukan manusia saja ada perasaan cinta. Haiwan turut bercinta dalam maknanya yang berbeza. Haiwan dihantui cemburu, marah, dengki, khianat dan juga curang, manusia betapatah lagi. Unsur-unsur inilah yang menjadikan cinta sesuatu yang sangat menyakitkan meskipun pada asalnya ia menjanjikan keseronokan, kenikmatan, kebahagiaan, persefahaman dan lain-lain yang membawa makna serupa.

Cinta itu penting kerana dengan cintalah manusia mendapat kekuatan untuk membuktikan sesuatu. Dengan cinta manusia sanggup memanjat gunung, menuruni lurah, menyeberang lautan, malah kadangkala berdepan dengan singa lapar. Begitulah hebatnya penangan cinta. Tatkala ia menyelubungi hati, seluruh alam kelihatan indah, padahal pada waktu itu hari telah diselubungi gelap.

Cinta boleh mencerahkan yang kedam malah kadang-kadang memberi warna pada kehitaman. Hebatnya cinta hingga ada orang tidak berasa lapar walaupun tidak makan berhari-hari. Dia sanggup mempertaruhkan dirinya demi cinta. Dia sanggup berdepan dengan apa saja. Cinta adalah motivasi terulung dan teragung baginya.

Begitulah hebat dan berkuasanya cinta. Sayang, sesetengah orang menjadi semakin lemah oleh cinta. Cinta menjadikannya semakin malas hendak berusaha. Apabila cintanya bermasalah atau mati di tengah jalan dia hilang haluan. Dia menyeksa dirinya sendiri dengan berasa sedih.

Kesedihan itu sendiri masih boleh diterima. Maklum, namanya pun manusia, dibekali emosi yang sering berubah-ubah mengikut situasi apa yang didepaninya. Bersedih itu salah satu sifat semula jadi manusia, tetapi jika terlalu sedih ia mencabar tahap normal seseorang manusia.

Lihatlah kisah Laila dengan Qais dalam filem “Laila Majnun”. Setelah pinangan Qais ditolak lantaran miskin, Qais hilang `kejantantannya’ . Saban hari dia menangis dan merindui Laila dan duduk merempat di birai masjid. Dirinya semakin tidak terurus. Apa yang terkeluar dari mulunya hanya “Laila… Laila… Lailaaaa…”

Akhirnya tampil diri Qais tidak ubah seperti seorang yang gila. Dia diejek oleh kanak-kanak, kadang-kadang ada yang membalingnya dengan batu. Masih hatinya tidak terbuka untuk membuktikan sesuatu.

Lihatlah betapa cinta boleh menjadi manusia begitu bodoh dan tolol sekali. Andainya sungguh Qais inginkan Laila, sepatutnya dia tinggalkan kampung berkenaan dan kembali dengan setimbun harta, sebab itu pun syarat yang diberikan oleh ayahanda Laila. Dengan menangis dan merayu, itu hanya meruntuhkan martabatnya sebagai seorang lelaki, yang sepatutnya kuat dan tuntas jiwa.

Cinta itu penting tetapi usah terlalu dipentingkan. Apabila cinta terlalu dipentingkan, yang lain-lain akan nampak tidak penting. Jadikan cinta booster dalaman untuk membina kejayaan dan kecemerlangan. Keterbilangan kita kadang-kadang ditentukan oleh rasa cinta kita, tetapi kadang-kadang ketewasan kita juga ditentukan oleh perasaan cinta kita.


Add to Technorati Favorites

Kalendar

September 2017
M T W T F S S
« Jan    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Sabda Rasulullah s.a.w

"Semua amalan anak Adam digandakan kebaikannya sepuluh kali ganda serupa dengannya hingga tujuh ratus kali ganda, Allah Azza Wajalla berfirman: ” Melainkan puasa, kerana ia untuk-Ku dan Aku sendiri yang membalasnya, mereka meninggalkan syahwat dan makanannya kerana-Ku.” Riwayat Bukhari & Muslim

Categories

Top Clicks

  • None

Pengunjung Terkini

Recent Readers

View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile
My Popularity

Bilangan Pembaca

  • 163,719 orang pembaca

Khazanah