~ Sharing Is Caring ~

Bagaimana menghadapi orang lain?

Posted on: November 12, 2007

Keunikan manusia yang kita temui di sekeliling kita kadang2 membuat kesukaran tersendiri baik bagi kita yang menghadapi mereka maupun sebaliknya.

Setiap hari kita membuat penilaian tentang orang yang kita jumpai baik berdasarkan penampilan fizikal, pola pembicaraan atau kesan pertama kita terhadapnya. Selain itu kita juga mempunyai penilaian tentang diri kita sendiri. Contohnya, jika kita sering diberitahu, “Engkau tidak akan mengetahui”, kita lalu membuat penafsiran bahawa kita dianggap bodoh.

Andaian yang muncul tentang diri kita sendiri boleh menyulitkan kita dalam menghadapi orang lain. Jadi orang lain tidak selamanya merupakan sumber kesukaran, satu-satunya.

Charles J. Keating dalam bukunya, Bagaimana Menghadapi Orang Lain?, menerangkan lebih jauh mengenai hal ini.

Anggapan mengenai orang lain.

Anggapan mengenai orang lain dapat menyulitkan kita sendiri. Biasanya, tingkah laku kita menunjukkan anggapan kita. Misalnya: kita cenderung memberikan reaksi terhadap cara berpakaian orang lain. Saat kita melihat seseorang dengan pakaian yang “seadanya” maka kita menganggap bahawa orang tersebut adalah orang yang “biasa-biasa saja” atau dengan kata lain bukan orang yang kaya. Maka cara kita memperlakukan mereka pun juga “seadanya”.

Tetapi apabila kita bertemu dengan seseorang yang memakai pakaian yang “mewah/ ekslusif” maka kita cenderung beranggapan bahawa orang tersebut adalah orang yang “berada” dan perlakuan kita pun terhadapnya akan jelas berbeda. Padahal menilai orang hanya dari penampilan fizikalnya saja sangat tidak bijaksana.

Anggapan kita mengenai orang lain dapat menciptakan atau merubah orang lain yang sebenarnya tidak ada. Dengan dipengaruhi oleh “keyakinan” kita sendiri dan diperkuat oleh “persepsi” mengenai orang lain, kita dapat membuat keputusan yang dapat menimbulkan masalah yang sesungguhnya tidak ada. Inilah problem dengan aanggapan mengenai orang lain. Mustahil memang untuk tidak membuat anggapan mengenai orang lain, tetapi tidak bijaksana untuk tidak menguji aanggapan2 tersebut.

Menilai diri kita sendiri.

Aanggapan kita tentang orang lain hampir selalu dipengaruhi oleh penilaian kita mengenai diri kita sendiri. Bagaimana pun anggapan mencakupi berbagai hubungan, apakah itu dilakukan dari jarak jauh atau dari jarak dekat, dan hubungan meliputi diri kita sendiri dan orang lain. Kita dapat membuat anggapan hanya tentang orang lain dari perspektif kita sendiri yang sering diwarnai oleh diri kita tentang diri kita sendiri.

Contohnya seorang akan selalu mengalami kesulitan jika rakan kerjanya melakukan pekerjaan yang menurutnya tidak sempurna (tidak seperti yang ia harapkan). Ia akan menjadi kepayahan bagi rakan kerjanya, demikian pula rakan kerjanya akan menganggap orang tersebut adalah orang bermasalah.

Strategi menghadapi orang lain.

Kita tidak dapat menghapuskan masalah kerana merupakan sebahagian dari dunia yang kita diami. Tetapi kita dapat menguranginya dengan memandang diri kita sendiri dan dengan berusaha memahami orang lain. Menangani orang bermasalah adalah tugas rangkap dua: kita harus menimbulkan kesadaran pada diri kita sendiri dan kesadaran pada orang lain.

– Periksalah aggapan kita sendiri tentang orang lain dan penilaiannya mengenai orang lain maupun mengenai kita.

– Penilaian kita kadang merupakan akibat pengalaman baik pengalaman yang benar maupun yang tidak benar, tergantung bagaimana kita menyelesaikannya.

Selalunya cara penilaian merupakan keturunan dari “keyakinan” yang ditanam di dalam diri kita oleh orang tua, saudara, guru dsb. Kunci untuk membuka suatu anggapan ialah dengan bertanya “Apakah kita telah memeriksanya dengan pertimbangan yang dewasa?” Jikalau kita tidak memeriksanya dan mempertimbangkannya secara dewasa, maka penilaian atau anggapan tersebut adalah penilaian kurang yang ada dalam diri kita. Dan asumsi tersebut lebih sukar kita kendalikan dibandingan dengan penilaian kita sendiri.

– Sebagaimana penilaian, motivasi juga harus dimunculkan untuk disadari. Jangan menganggap atau menduga sesuatu tanpa alasan, hal itu tidak ada gunanya dan kita dapat terperangkap dalam gambaran yang palsu mengenai suatu hubungan yang dapat menimbulkan kesalahpahaman yang menyukarkan.

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Add to Technorati Favorites

Kalendar

November 2007
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Sabda Rasulullah s.a.w

"Semua amalan anak Adam digandakan kebaikannya sepuluh kali ganda serupa dengannya hingga tujuh ratus kali ganda, Allah Azza Wajalla berfirman: ” Melainkan puasa, kerana ia untuk-Ku dan Aku sendiri yang membalasnya, mereka meninggalkan syahwat dan makanannya kerana-Ku.” Riwayat Bukhari & Muslim

Categories

Top Clicks

  • None

Pengunjung Terkini

Recent Readers

View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile
My Popularity

Bilangan Pembaca

  • 161,457 orang pembaca

Khazanah

%d bloggers like this: